AKu , Permulaan

Sepenggal Cerita Hidup yang Mati Terpendam


Kau tak usah tahu siapa aku, karena itu tak sepenting dengan cerita yang akan kucoba bagikan untukmu yang berarti untukku.

Aku memang bukan orang yang mahir dalam berkata, harapanku untuk kalian adalah meng “iya” kan dan turut merasakan apa yang akan kuceritakan.
Rasa yang ingin ku tuangkan dalam cerita ini akan terasa hambar, tanpa adanya keterlibatan hati dalam mencurahkannya, dan kuharap kaupun ikut sertakan hal itu ketika membacanya.

Cerita ini akan kumulai dari apa yang sedang tersirat dalam pikiranku saat ini.
Aku seorang bocah hutan belantara terlahir dari keluarga yang sederhana harta, namun kaya akan kasih sayang, telah hadir dan menatap dunia pada bulan mei 1993. Konon dahulu kala pada zaman dimana aku terlahir, semua orang desa dan sanak saudara akan turut serta menyambut kelahiran pendatang baru didaerahnya, yang mungkin sudah jarang terlihat pada zaman ini.
Kini ku beranjak menjadi seorang bocah yang sudah bisa merengek ketika menginginkan sesuatu, namun tak semuanya dapat kumiliki. Mainan mewahku dulu adalah senjata api yang terbuat dari batang daun pisang, dan harta behargaku dimasa itu adalah kelereng yang selalu kubawa kemanapun ku pergi.

Sabar saja ceritaku ini akan berkaitan dengan cerita berikutnya, tak usah khawatir.
Aku terlahir dari lima orang besaudara, namun adik terkasihku yang terakhir telah berpamit tanpa kata untuk kembali kepangkuan sang Pencipta diusianya yang masih terbilang sangat muda. Kini hanya tersisa empat bersaudara dengan posisiku bearada diurutan ke empat.


Manja, sang pangeran, yang dinomor satukan, itu semua yang selalu menerka kepadaku pada masa itu bagi mereka yang memandang, namun aku menolak untuk meng iya kan apa yang mereka sangka.
Diusiaku yang kini 7 tahun, sudah memasuki usia wajib menimba ilmu disekolah dasar. Sedih adalah rasa yang masih kuingat kala itu, kau tahu mengapa?

Karena diusiaku yang baru saja menginjak tujuh tahun, saya harus dihadapkan dimana aku harus hidup tanpa ibu dan ayah disisiku, bukan! Bukan karena mereka menjemput adik terakhirku, tapi mereka berjuang dan beranjak dari hutan untuk pergi ke kota mencari peraduan untuk mendapatkan ridho-Nya.

Tangisanku kala itu tak berarti apa-apa, rengekanku kala itu seolah tiada makna, gelap rasanya ketika ku mengingatnya, sesaat napas ini terhenti ketika orang tua terkasih meninggalkanku bersama kedua saudaraku, tunggu kemana saudaraku satu lagi? Ya, dia ikut turut ke kota untuk melanjutkan jenjang pendidikannya disekolah kejuruan.
Hampa rasanya, rindu ini sangat membuncak dikala melihat kawan sepermainanku bersenda gurau dengan orang tua mereka. Percayakah kamu, aku sudah bisa menahan tangis kala itu diusiaku yang masih gemar mengeluh.

Aku yang hidup bersama kedua orang saudara kandungku, harus menjalani hidup mandiri. Berangkat sekolah sarapan sudah terhidang, baju sudah siap pakai, alat tulis dan tas sudah tersedia, dan ciuman orang tua kala anaknya beranjak kesekolah tak kudapatkan saat itu, karena aku melakukannya sendiri, kemana saudaraku? Merekapun harus merasakan hal yang sama denganku.


Bersambung...

Komentar